Kisah Pesugihan Pedagang Ayam Goreng yang Kepergok Pembeli


Warung makan ayam goreng Suharto merupakan bisnis kuliner paling populer di daerah Surabaya.

Rasanya yang khas disertai dengan kremesannya yang gurih membuat para pembeli tidak berhenti berdatangan.

Banyak pembeli percaya ayam goreng Suharto memiliki resep rahasia yang tidak dimiliki oleh ayam goreng lainnya.

Akan tetapi, ada yang mengatakan ayam goreng Suharto hanya terasa enak ketika dimakan di tempat.

Padahal, kalau dilihat lagi, tempat warung makan itu jauh dari bersih dan nyaman.

Ada juga yang mengatakan kalau ayam gorengnya dibungkus, rasanya jadi aneh. Dari situ, akhirnya banyak pembeli yang menyebar rumor bahwa warung makan itu mengandalkan pesugihan.

Seorang selebgram dan food vlogger, sebut saja Santi, ingin membuktikan omongan orang tentang ayam goreng Suharto itu.

Hari ini, ia berencana makan di warung makan itu dengan salah satu temannya. Ia juga berencana menjadikan kunjungan itu sebagai konten di akun Instagramnya.

Sesampainya di warung itu, Santi dan temannya langsung membeli satu porsi ayam utuh khas ayam goreng Suharto lengkap dengan kremesannya.

Tak lama, pesanan datang. Santi tak lupa memotret ayam itu untuk keperluan konten.

Saat menyicipi ayam itu, Santi senang bukan kepalang karena ia belum pernah merasakan ayam goreng seenak itu seumur hidupnya.

Poin pertama, kata orang yang bilang ayam goreng Suharto itu enak ternyata benar.

Di tengah menikmati ayam goreng, Santi memperhatikan suasana yang ada di warung makan itu.

Hari itu, banyak sekali pembeli yang datang. Bahkan, Santi tadi sampai mengantre untuk mendapatkan tempat.

Tapi, satu hal yang membuat Santi heran adalah lantai warung makan itu terlihat kotor. Banyak tisu yang sudah terpakai berserakan.

Bahkan, debu-debu juga tidak dibersihkan. Kemudian, Santi memperhatikan para pembeli yang makan. Aneh sekali, pikir Santi. Mereka terlihat biasa saja dengan pemandangan itu.

Selesai makan, Santi teringat dengan rumor lainnya tentang warung makan ini. Lalu, Santi berinisiatif membungkus satu porsi ayam lagi untuk ia coba di rumah.

Tak lupa, Santi berfoto ria di depan warung itu, tepatnya di bawah tulisan “Ayam Goreng Suharto”.

***

Sesampainya di rumah, Santi langsung masuk ke kamarnya. Ia mengedit cepat foto yang sudah diambil dari warung makan tadi sekaligus menuliskan caption seperlunya.

Setelah diunggah, biasanya beberapa akun food vlogger lain akan merepost kontennya dan banyak komentar masuk.

Sambil menunggu respons dari pengikutnya, Santi mengambil ayam goreng yang ia taruh di atas meja makan. Pikirnya, makan ayam goreng lagi sambil menonton komentar pengikutnya sepertinya asyik.

Tidak lama setelah itu, tiba-tiba Santi mendapatkan banjir notifikasi dari akun Instagramnya.

Ternyata, banyak yang suka konten barunya karena banyak dari mereka yang menjadi pelanggan tetap. Santi senang sekali malam itu.

Namun, kesenangan itu tiba-tiba hilang akibat satu komentar dari akun @spillpesugihan. Lamat-lamat, Santi membaca komentar itu.

“Kak, udah tau belum kalau warung makan ini udah lama pake pesugihan? Kalau enggak percaya, lain kali kalau makan di situ, coba lihatin burung-burung yang ada di sangkar sebelah warung deh. Aku kasih bocoran deh kak, mereka pake burung-burung itu buat penglaris. Biasanya sih mereka ngelakuin ritual tiap malam Jumat kliwon. Terserah kakak mau percaya atau enggak,” tulis akun itu.

Santi mencoba mengingat keadaan warung makan yang ia kunjungi tadi. Benar saja, memang ada suara cuitan burung saat ia makan tadi.

Apa mungkin itu yang membuat orang-orang santai saja makan di tempat kotor? Ah, Santi tidak ingin membuat kesimpulan sendiri.

Tetapi, Santi semakin dengan tuduhan pesugihan itu. Pasalnya, ayam goreng yang ia bungkus ternyata rasanya berbeda dengan ayam goreng yang ia makan di tempat tadi.

Boleh dibilang, rasanya benar-benar tidak enak. Seperti ayam yang dibumbui rempah basi. Bahkan, kremesannya melempem.

Santi semakin heran. Kini Santi mulai curiga karena rumor-rumor itu terjadi satu per satu.

Tanpa berpikir lama, Santi berniat untuk membuktikan praktik pesugihan itu. Ia menunggu malam Jumat kliwon datang.

***

Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya datang. Santi bersiap menuju warung makan ayam goreng Suharto. Ia memakai pakaian, topi, dan masker serba hitam.

Dari kemungkinan yang ada, Santi berharap dia tidak menemukan apa-apa karena sayang saja, warung makan yang populer ternyata pakai pesugihan.

Sampai di tempat, Santi menunggu di depan gerbang warung. Ia menunduk di depan pagar agar tidak diketahui orang lain.

Warung itu sepi dan gelap. Tidak ada tanda-tanda kehidupan di situ. Tapi, Santi melihat sangkar burung itu masih ada di tempatnya.

Sebelum ada orang lain melihat, Santi menghitung jumlah burung yang ada di sangkar itu. 1..2..3..4..5.. ternyata ada lima burung di sangkar itu.

Tiba-tiba, ada suara gemericik berasal dari dapur belakang warung itu. Ternyata ada seorang pria yang muncul dari dapur warung. Santi yang penasaran memperhatikan gerak-gerik pria itu.

Pria yang berpakaian serba hitam itu berjalan mendekati sangkar burung. Ia mengambil salah satu burung yang ada di sangkar.

Kemudian, pria itu kembali lagi ke belakang warung. Melihat pria itu memasuki warung, Santi bergegas mengikuti pria itu.

Santi melihat sekelilingnya dan tidak ada orang di dapur itu. Melalui lubang pintu, Santi lamat-lamat melihat pria itu menyembelih burung yang ia tangkap tadi. Suara burung bercuitan dan darah mengucur.

Lalu, pria itu mencabuti bulu burung dan memasukkannya di wajan yang kelihatannya sudah panas. Setelah kecokelatan, burung yang digoreng itu tadi dimasukkan bersama dengan jejeran ayam goreng lainnya yang sudah matang.

Melihat hal itu, Santi tidak kuat menahan mual. Ia cepat-cepat keluar dari dapur dan muntah sejadi-jadinya.

Sekilas, ia melihat burung yang ada di sangkar tadi berjumlah kembali lima. Santi berkata pada diri sendiri bahwa ia tidak akan makan ayam goreng itu lagi.

*)Tulisan ini hanya rekayasa. Kesamaan tempat dan kejadian hanya kebetulan belaka.


Like it? Share with your friends!